“Witte Kruis Kolonie”: Bentuk Kemanusiaan dari Kota Salatiga
De Schoonste Stad van MiddenJava (Kota Terindah di Jawa Tengah) merupakan julukan kebanggan dari Kota Salatiga yang berasal dari Frasa bahasa Belanda di era Hindia-Belanda. Udaranya yang sejuk, sangat nyaman untuk para bangsawan dan pejabat kolonial tinggal. Namun, di balik kemegahan hunian Eropa di sana, terselip sejarah kemanusiaan bernama Witte Kruis Kolonie atau Koloni Salib Putih. Proyek Koloni Salib Putih lahir murni dari kepedulian meneer Belanda kala itu. Yuk, kita susuri warisan peninggalan tokoh berhati malaikat yang membekas dalam sejarah sosial Salatiga!
(Dokumentasi Jacobus van Emmerik & Alice dari YSKSP)
Kisah ini bermula pada tahun 1901 dimana terjadi letusan dahsyat dari Gunung Kelud. Ledakannya menyapu jalur transportasi, komunikasi, bahkan hasil panen masyarakat dengan limpahan debu abu vulkanik. Hal ini tentu berdampak pada bencana kelaparan juga wabah dan penyakit. Ditengah krisis yang terjadi, ada sepasang suami istri dari latar belakang bangsa yang berbeda namun disatukan oleh visi kemanusiaan. Adolph Theodoor Jacobus van Emmerik, seorang pria asal Amsterdam, Belanda, bersama istrinya yang berkebangsaan Inggris, Alice Cornelia Cleverly. Keduanya aktif dalam pergerakan Leger des Heils (Bala Keselamatan). Melihat orang sakit, yatim piatu, tuna wisma, dan penyandang disabilitas telantar di jalanan, nurani mereka terpanggil. Sehingga pada 1902, di lahan luas kawasan Warak (kini dikenal sebagai Salib Putih, Kumpulrejo, Argomulyo), mereka membuka sebuah kawasan perlindungan. Pemilihan nama ”salib Putih” karena konon saat pembukaan lahan ditemukan batu marmer putih menyerupai salib sehingga dipilihlah nama Witte Kruis Kolonie. Nama ini mengalami beberapa perubahan dimana pada 1952 karena pengelolaan diserahkan kepada Sinode GKJ, maka namanya berubah menjadi Perkumpulan Rumah Perawatan Salib Putih. Kemudian, pada tahun 1977 nama tersebut berubah lagi menjadi Yayasan Sosial Kristen Salib Putih, yang dikukuhkan melalui akta notaris tahun 1995.
Keistimewaan Koloni Salib Putih pada masanya terletak pada tekad pasangan Van Emmerik yang lebih dari sekedar pemberian amal berupa makanan dan tempat tinggal. Mereka berhasil merintis sebuah ekosistem mandiri yang fokus pada keberlanjutan penghuninya. Berdasarkan catatan Yayasan Dharmais (1995) yang dikutip oleh Mulyati (2020), kawasan Salib Putih ini ditopang oleh beberapa fasilitas utama, yaitu:
- GKJ Salib putih: Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salib Putih merupakan wujud nyata pelayanan sosial dari Yayasan Sosial Kristen Salib Putih. Berada di dalam satu kawasan dengan Agrowisata Salib Putih, bangunan ini tercatat sebagai salah satu gereja tertua di Jawa Tengah yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1902 (Harnoko, dkk., 2008, dalam Mulyati, 2020). Fasilitas ini didirikan secara khusus untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan rohani, sekaligus menjadi pusat ibadah bagi penghuni kawasan panti maupun masyarakat di sekitarnya.
- Panti Asuhan dan Panti Wreda: Fasilitas ini memberikan pelayanan sosial yang menyeluruh tanpa membedakan latar belakang suku, ras, maupun agama. Panti asuhan didedikasikan untuk merehabilitasi dan memberdayakan anak-anak telantar, yatim piatu, atau korban perceraian agar dapat kembali mandiri secara fisik, psikologis, spiritual, dan moral. Sementara itu, panti wreda menjamin kesejahteraan lansia melalui penyediaan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), perawatan kesehatan, serta pendampingan khusus yang disesuaikan dengan kapasitas fisik mereka.
- Perkebunan dan Panti Karya: Panti Karya berfungsi sebagai pusat rehabilitasi sosial dan ekonomi bagi kelompok rentan usia produktif (seperti gelandangan dan orang telantar). Penghuni diberikan tempat berlindung, jaminan lauk-pauk, serta pelatihan keterampilan kerja di perkebunan kopi. Menurut Damayanti (2019), program ini bersifat kuratif, rehabilitatif, dan promotif dalam membekali penghuni dengan pendidikan dasar, mental, dan sosial agar mereka siap kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri. Selain membantu pemerintah menekan angka kemiskinan, operasional perkebunan kopi ini menciptakan siklus bisnis yang secara konsisten berdampak ke seluruh kawasan perkebunan.
Perjalanan kemanusiaan Witte Kruis Kolonie tidak selalu berjalan mulus. Setelah Van Emmerik berpulang pada tahun 1924, perjuangannya dilanjutkan oleh sang istri, Alice. Kerja keras Alice bahkan dianugerahi Orde van de Nederlandse Leeuw pada tahun 1930. Namun, masa kelam datang saat Jepang masuk di tahun 1942. Seluruh fasilitas disita, sementara Alice dan adiknya, Louis Cleverly, ditangkap hingga akhirnya wafat. Pengelolaan yayasan kemudian dilanjutkan oleh sang anak, Santoso Adolf van Emmerik, dari tahun 1948 hingga 1952. Di masa kepemimpinannya, tepatnya sekitar tahun 1949, Santoso berdiskusi dengan Pendeta Basoeki Probowinoto, yang kemudian dari perbincangan inilah muncul ide untuk menyerahkan yayasan pengelolaan kepada tokoh lokal, yang akhirnya diserahkan secara resmi kepada Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ).
Kini, jejak kebaikan para pendiri koloni itu masih terasa kuat. Melalui Yayasan Sosial Kristen Salib Putih (YSKSP), warisan kemanusiaan ini terus berjalan hingga saat ini. Jika kita menelusuri rimbunnya kebun kopi, sekitar satu kilometer dari gereja, kita akan menemukan tempat peristirahatan terakhir para pendiri Salib Putih. Di kompleks makam asri inilah jenazah Van Emmerik, Alice, dan Louis (Adik Alice) disemayamkan. Nisan mereka berdiri sederhana tanpa sisa kemewahan ala Eropa. Di atas nisan itulah tertulis nama-nama sosok pahlawan yang pernah membawa harapan bagi ribuan orang, yang hingga kini masih rutin dikunjungi para peziarah setiap minggunya untuk sekadar menaruh bunga dan berdoa dalam hening.
Jadi, Koloni Salib Putih bukan sekadar peninggalan arsitektur atau tanah perkebunan, ya sobat. Ini menjadi saksi bisu bagaimana kasih mampu menembus benteng ras, status, bahkan kolonialisme. Tertarik belajar bahasa Belanda? sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!
Referensi:
Mulyati. (2020). Dinamika yayasan sosial Kristen Salib Putih (YSKSP) di Kota Salatiga tahun 1901-1977. Pangadereng: Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora, 6(2), 300–313. https://doi.org/10.36869/pjhpish.v6i2.151
https://djangki.wordpress.com/2025/10/29/salib-putih/
https://www.youtube.com/watch?v=K18sryGwa5k&t=134s
https://telusuri.id/kisah-dari-lawatan-ke-makam-pendiri-salib-putih-salatiga/
https://www.delpher.nl/nl/boeken/view?coll=boeken&identifier=MMUBVU02:000008424:00005
