Memulai perjalanan untuk belajar bahasa baru sering menjadi tantangan tersendiri yang terkadang membuat kita ragu. Keraguan ini berasal dari berbagai hal, namun yang paling mendasar adalah “Harus mulai dari mana?” Nah, bagi sobat KP yang berdomisili di wilayah Yogyakarta dan memiliki ketertarikan terhadap bahasa serta budaya sejarah Eropa, mengikuti program kelas bahasa Belanda tatap muka (offline) bisa menjadi langkah awal yang paling tepat.
Pada artikel ini, kita akan membahas tentang Bagaimana alur pembelajaran, materi yang digunakan, hingga gambaran fasilitas dari kelas dasar tersebut di Karta Pustaka
A. Belajar dari Nol
Tidak perlu merasa ragu jika sobat KP belum pernah belajar bahas Belanda sebelumnya. Kelas ini memang dirancang untuk pemula dari nol. Target pencapaian dari program dasar ini adalah Level A1.1, merujuk pada standar Kerangka Acuan Umum Eropa untuk Bahasa (CEFR). Pada level A1.1 ini, tujuan utamanya adalah membangun kepercayaan diri peserta untuk memahami dan menggunakan ekspresi sehari-hari serta merangkai kalimat-kalimat dasar.
B. Apa Saja yang Dipelajari?
Pendekatan belajar di dalam kelas fokus pada empat pilar kebahasaan, yaitu: mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Secara tujuan, berikut adalah materi inti yang akan sobat KP pelajari selama kelas berlangsung:
1) Dasar Komunikasi: Tata cara perkenalan diri, menanyakan kabar, membuat janji temu, berbelanja, hingga menceritakan rutinitas harian.
2) Struktur Gramatika Dasar: Penggunaan kata ganti orang, konjugasi kata kerja (werkwoorden), membentuk kalimat masa kini (tegenwoordige tijd), pembentukan kalimat tanya, serta struktur kalimat positif dan negatif.
3) Kosakata Tematik: Angka, hari, bulan, petunjuk arah, profesi, dan benda-benda di sekitar kita.
C. Informasi Kelas
1) Jadwal = Sabtu 10.00 – 11.30 WIB
2) Minimal 4 siswa/ kelas
3) Biaya = Rp 675.000 (15x pertemuan)
4) Add on buku cetak = Rp 200.000
5) Lokas = Karta Pustaka Jl. Bogem, Kalasan, Sleman
D. Biaya dan Pendaftaran
Investasi pendidikan untuk menguasai bahasa asing merupakan aset berharga, baik untuk kebutuhan studi lanjutan, karier, maupun pengembangan diri. Biaya pendaftaran yang kami tetapkan sangat terjangkau dan disesuaikan dengan fasilitas kelas. Peserta akan mendapatkan panduan belajar yang teratur, kelengkapan materi, serta pengajar yang kompeten di bidangnya.
Untuk melihat transparansi rincian biaya terbaru, memeriksa ketersediaan kursi, atau sekadar berkonsultasi mengenai jadwal kelas terdekat, sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!
Kalimantan merupakan pulau besar di Indonesia yang selama ini tidak menggunakan kereta api sebagai transportasi publik bagi masyarakatnya. Namun anggapan bahwa Kalimantan “tak pernah punya rel” adalah anggapan yang keliru. Di balik padatnya hutan tropis, tersimpan peninggalan besi-besi tua zaman Hindia Belanda yang nyaris terlupakan. Tapi, saat ini kisah itu akan kembali relevan karena pemerintah berambisi menghidupkan jaringan Kereta Trans Kalimantan. Penasaran? Yuk kita bahas lebih lanjut!
Kereta api pertama di Kalimantan bukanlah kereta penumpang yang mengangkut manusia dari kota ke kota, melainkan lori tambang yang bergerak mengangkut batu bara. Mansyur seorang sejarawan sekaligus dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, mereka ”mau tidak mau” harus membangun jaringan rel demi mendukung pengangkutan hasil bumi ke pelabuhan dan kota untuk menunjang efisiensi waktu jual beli. Selain itu, keberadaan jaringan rel kereta di Kalimantan ini juga ditelusuri oleh Mr Gerard de Graaf, seorang railfans (penggemar kereta api) Belanda yang juga seorang fotografer. Ia banyak merujuk buku Onze Koloniale Minjnbouw De Steenkolonindustria karya Ir RJ Van lier. Menurut catatan tersebut, kereta di daerah pertambangan seperti Sumatra dan Kalimantan beroprasi dalam rentang 1888 – 1956. Jejak tertua perkeretaapian ini mengarah ke tambang Oranje-Nassau di Pengaron, Kabupaten Banjar, tempat gerobak kecil digerakkan di atas rel sederhana menuju Sungai Riam Kiwa. Dugaan yang diperkuat temuan dua roda besi lori oleh Balai Arkeologi Banjarmasin pada 2012.
(Roda besi yang diduga milik lori di Situs Tambang Batubara Oranje Nassau yang ditemukan Tim ekskavasi Balai Arkeologi Banjarmasin (2012))
Jejak peninggalan serupa juga muncul di Balikpapan, di Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) atau anak usaha dari Royal Dutch Shell. Mereka membangun rel untuk mengangkut drum minyak dari kilang ke pelabuhan sekaligus mengangkut para petinggi perusahaan. Jaringan bersistem Decauville (decauville merupakan sistem kereta api industri ringan) ini dibangun dengan lebar rel 1.000 mm, sama seperti Sabah State Railway, dengan lokomotif uap Henschel und Sohn dan diesel Deutz asal Jerman. Sayangnya, jalur rel Kalimantan ini berakhir hancur. Infrastruktur di Balikpapan lenyap pada Perang Dunia II dan makin tersingkir oleh modernisasi pengangkutan BBM.
(Kereta api Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Balikpapan)
(Kereta Api BPM yang sedang mengangkut drum minyak)
Wacana menghidupkan perkeretapian di kalimantan berulang kali muncul namun selalu berakhir nihil. Mulai dari Presiden Joko Widodo yang melakukan peletakan batu pertama pembangunan proyek kereta api batubara di Balikpapan, Kaltim tahun 2015. Kemudian, pembangunan jalur kereta itu beriringan dengan rencana awal pemerintah membangun jaringan 2.428 km pada 2015–2017 dari Kalimantan Utara memutar ke Kalimantan Barat. Proyek ini pun tak berlanjut. Tapi, kini harapan itu kembali lagi, dimana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan Trans Kalimantan sebagai prioritas, bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjajaki investor dari China dan Rusia. Wah, jika ini benar terealisasikan, min KP gakebayang sih seberapa kerennya!
Dari lori batu bara yang zaman kolonial hingga rencana kereta modern yang dilirik investor asing, sejarah menegaskan bahwa rel di Kalimantan pernah ada, rusak, dan menghilang puluhan tahun. Apakah generasi kita yang sekarang mampu mengubah jejak besi tua itu menjadi moda transportasi rakyat di sana? Kita tunggu dan lihat ya, sobat!
Tertarik belajar bahasa Belanda? sobat KP bisa langsung mengakses link berikut ini!
Halo, Sobat KP! Kali ini min KP hadir dengan info menarik buat pra sobat KP yang semangat mengejar mimpi kuliah di Belanda. Kita semua tahu, Belanda memang sudah lama menjadi destinasi favorit bagi para pejuang beasiswa dan mahasiswa internasional, dengan salahsatu jurusan favoritnya yaitu bisnis. Bukan tanpa alasan, yup! “Negeri Keju” ini punya sistem pendidikan yang sangat inovatif dan koneksi industri yang luar biasa, sehingga terlihat menarik bagi pelajar yang ingin melanjutkan mimpinya di luar negeri. Nah, khusus buat sobat KP yang tertarik lanjut untuk gelar Master (S2) atau PhD (S3) di bidang Bisnis, min KP sudah merangkum 3 universitas terbaik di Belanda yang kualitasnya sudah diakui dunia. Yuk, kita bahas bareng!
Sekolah Manajemen Rotterdam (RSM) – Universitas Erasmus Rotterdam
Kalau bicara soal bisnis di Belanda, nama RSM pasti berada di urutan teratas. Terletak di kota pelabuhan terbesar di Eropa, universitas ini adalah “pabrik” pemimpin bisnis kelas dunia.
RSM memegang status Akreditasi Triple Crown (AACSB, AMBA, EQUIS), sebuah pengakuan yang hanya dimiliki oleh 1% sekolah bisnis di seluruh dunia.
Program MSc Supply Chain Management RSM mempertahankan posisinya sebagai no 3 di dunia dalam Peringkat Magister Bisnis QS 2025. Hasil ini memimpin kinerja yang kuat di seluruh portofolio sekolah, dengan empat program magister lainnya termasuk Pemasaran, Manajemen, dan Analisis Bisnis, mendapatkan posisi di 30 besar global untuk kemampuan kerja dan kepemimpinan intelektual.
Financial Times mengakui RSM sebagai pemimpin dunia dalam pelaporan keberlanjutan:
Executive MBA: Peringkat 37 di dunia, no 1 di Benelux, dan no 3 di dunia untuk jejak karbon.
MBA Penuh Waktu: Peringkat 52 di dunia, no 1 di Benelux, dan no 4 di dunia untuk jejak karbon.
MSc Keuangan & Investasi: Peringkat 4 di dunia untuk Jejak Karbon .
Bagi Sobat KP yang mengincar PhD, RSM adalah salah satu fasilitas penelitian manajemen terbaik di Eropa. Mereka memiliki lebih dari 250 peneliti senior dan150 mahasiswa PhD, juga 35 pusat penelitian yang sangat aktif berkolaborasi dengan perusahaan global.
RSM sangat fokus pada keberlanjutan (sustainability). Bahkan hampir 70% metrik mereka sudah mengintegrasikan poin-poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Amsterdam Business School (ABS) – Universitas Amsterdam (UvA)
Ingin kuliah di pusat kota yang dinamis? Amsterdam Business School adalah penjelasannya. Sebagai bagian dari University of Amsterdam yang konsisten masuk 100 universitas terbaik dunia, ABS menawarkan lingkungan yang sangat kosmopolitan.
ABS dikenal karena pendekatan analitis dan inovatifnya. Dalam peringkat terbaru QS World University Rankings 2026, UVA menempati posisi ke-55 secara global . Mereka sangat kuat di bidang Keuangan dan Bisnis Internasional.
Jika Sobat KP tertarik pada penelitian yang menggabungkan bisnis dengan teknologi (seperti Data Science atau AI dalam Bisnis), ABS adalah tempatnya. Lokasinya yang dekat dengan pusat keuangan dan perusahaan rintisan (startup) di Amsterdam memberikan peluang jejaring yang tak terbatas.
Beberapa peringkat global UvA:
Universitas Terbaik Global Versi US News 2024-2025 ke -33
Peringkat Universitas Dunia QS 2026 ke -53
Peringkat Universitas Dunia Times Higher Education 2026 ke -62
Peringkat Shanghai: Peringkat Akademik Universitas Dunia 2025 ke 101-150
Peringkat CWTS Leiden 2025 ke -114
Sekolah Bisnis dan Ekonomi (SBE) – Universitas Maastricht
Buat kamu yang suka metode belajar yang berbeda, Maastricht University menawarkan pengalaman yang unik melalui metode Problem-Based Learning (PBL).
Program MBA dari cabang eksekutif Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Maastricht, MSM dan UMIO, diakui sebagai salah satu program MBA bisnis berkelanjutan terbaik di dunia. Dalam Peringkat MBA Dunia yang Lebih Baik 2025 oleh Corporate Knights (platform terkemuka dalam bisnis berkelanjutan, yang membahas bagaimana organisasi, pasar, dan pemerintah di seluruh dunia memajukan keberlanjutan sosial dan lingkungan), Universitas Maastricht telah mencapai posisi 3 yang mengesankan secara global dan 1 di Eropa, sambil mempertahankan posisi terdepannya di Belanda.
SBE Maastricht baru saja mencatatkan prestasi gemilang sebagai peringkat ke-1 di Belanda untuk program master’s in management versi Financial Times 2025.
Maastricht adalah universitas paling internasional di Belanda lebih dari 60% pelajarnya berasal dari luar negeri. Untuk PhD, lingkungannya sangat mendukung kolaborasi interdisipliner antara ekonomi, bisnis, dan kebijakan publik.
Lokasinya yang berada di ujung selatan Belanda dan berbatasan langsung dengan Belgia serta Jerman, membuat banyak mahasiswa yang belajar sekaligus menjelajah negara tetangga untuk refresing ketika jenuh dengan dunia perkuliahan.
Ketiga kampus di atas min KP rekomendasikan bukan hanya melihat peringkat, tapi uga melihat ekosistem yang bisa membantu para sobat KP untuk berkembang. Kalau sobat KP suka meneliti, maka RSM pilihannya. Kalau sobat KP tertarik dengan dinamika kota besar dan inovasi, ABS bisa jadi pilihan. Tapi kalau sobat KP mencari lingkungan internasional, SBE Maastricht bisa jadi pertimbangan. Nah, sudah menentukan pilihan?
Ingin tahu lebih banyak mengenai hal menarik di Belanda atau tertarik untuk bergabung dengan kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka? Silakan follow instagram kami di @kartapustaka, hubungi kami di 62 813-3899-8527 (Dea), atau klik link berikut ini!
Halo, Sobat KP! Memulai perjalanan untuk belajar bahasa baru sering menjadi tantangan tersendiri yang terkadang membuat kita ragu. Keraguan ini berasal dari berbagai hal, namun yang paling mendasar adalah “Harus mulai dari mana?” Nah, bagi sobat KP yang berdomisili di wilayah Yogyakarta dan memiliki ketertarikan terhadap bahasa serta budaya sejarah Eropa, mengikuti program kelas bahasa Belanda tatap muka (offline) bisa menjadi langkah awal yang paling tepat.
Pada artikel ini, kita akan membahas tentang Bagaimana alur pembelajaran, materi yang digunakan, hingga gambaran fasilitas dari kelas dasar tersebut di Karta Pustaka.
Belajar dari Nol
Tidak perlu merasa ragu jika sobat KP belum pernah belajar bahas Belanda sebelumnya. Kelas ini memang dirancang untuk pemula dari nol. Target pencapaian dari program dasar ini adalah Level A1, merujuk pada standar Kerangka Acuan Umum Eropa untuk Bahasa (CEFR). Pada level A1 ini, tujuan utamanya adalah membangun kepercayaan diri peserta untuk memahami dan menggunakan ekspresi sehari-hari serta merangkai kalimat-kalimat dasar.
Apa Saja yang Dipelajari?
Pendekatan belajar di dalam kelas fokus pada empat pilar kebahasaan, yaitu: mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Secara tujuan, berikut adalah materi inti yang akan sobat KP pelajari selama kelas berlangsung:
Dasar Komunikasi: Tata cara perkenalan diri, menanyakan kabar, membuat janji temu, berbelanja, hingga menceritakan rutinitas harian.
Struktur Gramatika Dasar: Penggunaan kata ganti orang, konjugasi kata kerja (werkwoorden), membentuk kalimat masa kini (tegenwoordige tijd), pembentukan kalimat tanya, serta struktur kalimat positif dan negatif.
Kosakata Tematik: Angka, hari, bulan, petunjuk arah, profesi, dan benda-benda di sekitar kita.
Untuk mendukung proses tersebut, referensi utama yang digunakan adalah buku “Help!”. Buku panduan ini sangat direkomendasikan dan terstruktur dengan baik untuk pemula. Di dalamnya terdapat kombinasi teks bacaan ringan, latihan gramatika, serta simulasi percakapan kontekstual yang sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Durasi Pembelajaran dan Suasana Kelas
(Foto 1: Suasana kelas offline Karta Pustaka)
Untuk menyelesaikan level A1, kelas ini umumnya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 bulan (bergantung pada intensitas pertemuan mingguan).
(Foto 2: Murid Kelas Offline Karta Pustaka Periode Desember 2025)
Keuntungan utama dari kelas offline adalah interaksi langsung. Murid dapat belajar pelafalan (uitspraak) yang seringkali menjadi kendala dalam bahasa Belanda, seperti melafalkan huruf ‘G’ atau suara vokal ganda, dan mendapatkan koreksi langsung dari pengajar di kelas.
Biaya dan Pendaftaran
Investasi pendidikan untuk menguasai bahasa asing merupakan aset berharga, baik untuk kebutuhan studi lanjutan, karier, maupun pengembangan diri. Biaya pendaftaran yang kami tetapkan sangat terjangkau dan disesuaikan dengan fasilitas kelas. Peserta akan mendapatkan panduan belajar yang teratur, kelengkapan materi, serta pengajar yang kompeten di bidangnya.
Ingin tahu lebih banyak mengenai hal menarik di Belanda atau tertarik untuk bergabung dengan kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka? Silakan follow instagram kami di @kartapustaka, hubungi kami di 62 813-3899-8527 (Dea), atau klik link berikut ini!
Belanda, negara dengan keunikan sebagian besar wilayahnya dibawah permukaan air. Bukan hanya bertahan dengan ancaman air, Belanda justru memanfaatkan keunikannya ini sebagai daya tarik yang menawan. Negara ini aktif “mencuri” daratan dari lautan dengan teknologinya yang luar biasa. Hah? Mencuri? Yuk kita bahas bareng!
Belanda Berhasil Mengubah Peta
(Peta Belanda Sebelum dan Sesudah Reklamasi)
ba sobat KP perhatikan dan bandingkan antara 2 peta di atas. Terdapat perbedaan mencolok yaitu sekitar 17% daratan belanda saat ini ternyata hasil dari reklamasi laut dan danau. Terdapat beberapa funfact lainnya, seperti:
Sebanyak 26% dari wilayah Belanda terletak di bawah permukaan laut.
Hanya 50% dari wilayahnya yang berada lebih dari 1 meter di atas permukaan laut.
Titik terendah: Zuidplaspolder −7 m (−23 kaki), di bawah permukaan laut.
Titik tertinggi (di Eropa): Vaalserberg 322,7 m (1.059 kaki) di atas permukaan laut.
Flevoland menjadi provinsi Belanda yang paling baru karena baru dibentuk pada tahun 1986 di atas lahan yang sebagian besar hasil reklamasi.
Teknologi Air Unggulan Belanda
Polder
Belanda menciptakan teknologi bernama polder untuk membantu mereka “menciptakan” lahan baru. Polder ini merupakan lahan rendah yang dibuat dengan cara membangun tanggul di sekelilingnya dan kemudian air yang terperangkap di dalamnya akan dipompa keluar secara terus-menerus dengan bantuan kincir angin (pada zaman dahulu) yang sekaraang digantikan dengan stasiun pompa raksasa modern. Contoh proyek bersejarahnya adalah Polder Beemster yaitu proyek besar pertama dengan kincir angin sebagai alat pengering air di masa itu.
Zuiderzee Works
Zuiderzee Works merupakan proyek yang dibuat untuk mengurangi risiko banjir dan menciptakan lahan baru untuk pertanian unggulan Belanda. Fitur utama dalam proyek ini adalah pembangunan yang mengubah Zuiderzee (teluk dangkal di Laut Utara) menjadi Ijsselmeer berair tawar juga menciptakaln lahan-lahan polder baru (termasuk Flevoland).
Delta Works
Proyek yang dibangun setelah banjir besar Laut Utara tahun 1953. Proyek ini terdiri dari rangkaian bendungan, pintu air, kunci air, tanggul, dan penghalang gelombang badai yang dirancang untuk melindungi wilayah delta barat daya. Oosterscheldekering merupakan salah satu bendungan yang paling terkenal, yang menampilkan gerbang besar yang dapat dipindahkan dan ditutup saat badai.
Langkah Belanda dalam Mencegah Banjir
Belanda telah bertransformasi dari sekadar “menahan” udara menjadi “mengelola” udara melalui langkah-langkah strategi berikut:
Revolusi Room for the River: Memberikan ruang bagi sungai untuk meluap secara terkendali.
Manajemen Delta Adaptif: Program jangka panjang yang berfokus pada adaptasi terhadap perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut dengan beberapa pilar seperti manajemen risiko banjir, pasokan air tawar, dan lainnya.
Infrastruktur Terapung: Menjelaskan konsep rumah dan pertanian terapung yang bisa beradaptasi dengan ketinggian udara.
Inovasi Sand Motor: Memanfaatkan bukit pasir dan ekosistem pantai sebagai benteng alami dari hantaman ombak.
Belanda menjadi bukti nyata dimana gabungan antara kecerdasan manusia dan alam akan menciptakan sesuatu yang sangat berguna. Jadi, Apakah sobat KP tertarik untuk datang dan mempelajari langsung terkait bagaimana Belanda ”mencuri” daratan? Kalok min KP sih tertarik banget!
Ingin tahu lebih banyak mengenai hal menarik di Belanda atau tertarik untuk bergabung dengan kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka? Silakan follow instagram kami di @kartapustaka, hubungi kami di 62 813-3899-8527 (Dea), atau klik link berikut ini!
Belanda merupakan negara yang dekat dengan susu dan pengelolaan airnya, tapi bagaimana jika keduanya digabung menjadi satu? Ya, Belanda sudah menggabungkan keahliannya mengelola air dengan dunia agrikultur dalam proyek bernama Floating Farm. Peternakan sapi perah terapung pertama di dunia ini menjadi salahsatu proyek menarik yang dimiliki Belanda. Yuk, kita bahas bareng kenapa peternakan ini bisa sampai “terbang” di atas air dan gimana cara kerjanya!
Kenapa harus di atas air dan Bagaimana awal mulanya? Jadi, pada mulanya ide jenius ini lahir dari krisis yang terjadi di New York akibat Badai Sandy di tahun 2012. Krisis ini memperlihatkan seluruh kota kehabisan pasokan makanan segar hanya dalam hitungan hari, sehingga mengharuskan mereka bergantung dengan ribuan truk makanan setiap harinya. Kebergantungan pangan dengan wilayah luar ini menggambarkan kerapuhan pangan dari wilayah itu sendiri. Belajar dari peristiwa tersebut, muncul sebuah ide untuk lebih mengeksplore lokalisasi. Lokalisasi produksi pangan ini dibuat melalui pembangunan fasilitas peternakan di atas air, mengingat tata letak geografis juga kedekatan belanda terhadap air.
Desain Konstruksi Tiga Lantai
Desain konstruksi Floating Farm ini memiliki tiga lantai yang masing-masing punya fungsi berbeda:
Lantai Pertama: Di sinilah tempat tinggal bagi 31 sapi perah yang menghasilkan 600 liter susu setiap harinya.
Lantai Kedua: Area Ini menjadi pusat pengolahan dan penyimpanan pupuk kandangan juga produk susu.
Lantai Ketiga: Tingkat ini berada di bawah air, guna menampung teknologi penyaringan air.
Produksi (Pertanian Sirkular)
Floating Farm juga berperan sebagai contoh pertanian sirkular berteknologi tinggi. Produksi di pertanian ini berteknologi tinggi dan berkelanjutan, seperti:
Air hujan dikumpulkan dan disaring untuk dikonsumsi sapi.
Kotoran ternak dikumpulkan, diproses, dan dijual sebagai pupuk.
Pakan untuk sapi berasal dari kota (rumput, kulit kentang, ampas gandum, dll).
Panel surya terapung memasok energi ke pertanian.
Floating Farm juga menggunakan sistem operasionalnya yang serba otomatis. Mulai dari pembersihan kotoran sapi, hingga proses memerah susunya sudah menggunankan bantuan robot. Selain itu, sapi-sapi di sana juga sangat diperhatikan untuk hidup bahagia. Perawatan terbaik diberikan untuk mereka, misalnya tempat tidur Easyfix yang dirancang khusus untuk sapi dan dapat disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing sapi agar tidak menyakiti dirinya sendiri dan bisa hidup dengan nyaman. Wah, min KP jadi minder sama sapi-sapi di sana, ahahaha.
Kehadiran Floating Farm di Rotterdam bukan sekadar ide aneh, tapi sebuah pemikiran cerdas untuk bertahan hidup. Proyek ini membuktikan bahwa kita bisa memproduksi makanan sehat langsung di jantung kota, terlepas dari seberapa ekstrem perubahan cuaca atau naiknya permukaan air laut. Siapa diantara sobat KP yang tertarik untuk melihat langsung Floating Farm ini?
Ingin tahu lebih banyak mengenai hal menarik di Belanda atau tertarik untuk bergabung dengan kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka? Silakan follow instagram kami di @kartapustaka, hubungi kami di 62 813-3899-8527 (Dea), atau klik link berikut ini!
Yogyakarta, kota pelajar yang istimewa dengan beragam budaya dan unggah-ungguhnya. Kuliner dan tempat bersejarahnya berderet hingga ke pusat kota. Namun, dibalik itu semua, kota ini menyimpan rekam jejak sejarah yang masih tersimpan rapi. Salah satu saksi bisu paling monumental dari ”gesekan” antara penguasa lokal dan kolonial adalah Benteng Vredeburg. Mari kita bahas lebih dalam bagaimana sebuah pos pantau militer VOC bisa hadir begitu dekat dengan pusat penguasa lokal di Yogyakarta.
Kisah ini bermula ketika Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Keraton Kasultanan Yogyakarta pada Oktober 1755. Setelah selesai membangun kraton, Sri Sultan HB I mulai membangun bangunan-bangunan pendukung lainnya seperti Pasar Gedhe, Masjid, alun-alun dan bangunan pelengkap lainnya di sekitar keraton. Disisi lain, kemajuan pesat keraton saat itu ternyata memicu rasa waswas dari kubu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) Belanda. Merasa membutuhkan “mata dan telinga” untuk mengawasi pusat kekuasaan tersebut, pihak Belanda mulai melancarkan strateginya. Mereka membujuk Sultan agar diizinkan membangun markas militer di dekat keraton, dengan dalih ingin membantu menjaga keamanan wilayah dari ancaman luar. Permohonan ini disetujui oleh Sri Sultan, sehingga dimulailah pembangunan konstruksi pada tahun 1760 hingga 1767. Bangunan awal yang sederhana tersebut lalu disempurnakan menjadi benteng pertahanan permanen dibawah pimpinan Gubernur Johannes Sioeberg diresmikan menjadi benteng kompeni dengan nama Rustenburghyang artinya “tempat istirahat” pada tahun 1787. Di balik dalih keamanan dan penamaannya yang ”damai”, posisi strategi benteng yang hanya menjangkau satu tembakan meriam merupakan taktik tersembunyi untuk mengontrol aktivitas keraton, mengintimidasi, sekaligus langkah antisipasi jika sewaktu-waktu Sultan melancarkan serangan balik ke Belanda. Wah, ngeri juga ya kalau dipikir-pikir. Dengan jarak sesempit itu, kebayang banget kalau tiba-tiba Belanda beneran menembakkan meriamnya ke arah keraton. Pusat pemerintahan pasti bisa langsung lumpuh total dalam hitungan menit aja!
Pada tahun 1867, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang cukup dahsyat hingga menghancurkan hampir seluruh wilayah Yogyakarta tidak terkecuali Benteng Rustenburgh. Bencana alam ini memaksa pemerintah kolonial untuk melakukan perbaikan besar-besaran. Kemudian, setelah perbaikan ini selesai oleh Daendels, nama benteng Rustenburgh diubah menjadi benteng Vredeburgyang artinya “perdamaian”.
Secara lokasi, tanah tempat benteng ini terbangun adalah aset sah milik keraton. Namun, sejarah mencatat penguasaan operasionalnya terus berpindah tangan dari VOC, Inggris, Jepang, hingga militer republik Indonesia. Ya, benteng ini merekam setiap peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta. Pada tahun 1811-1816, benteng ini dikuasai oleh pemerintah Inggris di bawah penguasaan John Crawfurd atas perintah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles. Pada masa ini, terjadi peristiwa penting yaitu Geger Sepoy yang merupakan penyerbuan pasukan Inggris terhadap Kraton Yogyakarta. Disebut sebagai Geger Sepoy karena kebanyakan pasukan Inggris ini berasal dari Brigade Sepoy. Brigade yang tentaranya direkrut dari warga India yang sudah terlebih dahulu dijajah oleh Inggris.
Kemudian, ketika militer kekaisaran Jepang merebut Nusantara pada tahun 1942, fungsi Benteng Vredeburg berubah drastis. Lorong-lorong dan ruangannya yang kokoh disulap menjadi markas polisi militer (kempetei), gudang amunisi tempur, sekaligus rumah tahanan bagi orang-orang Belanda dan tokoh politik lokal yang membangkang terhadap pemerintahan Jepang.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, benteng ini pun jatuh ke tangan militer Republik Indonesia. Namun, saat peristiwa Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, benteng ini kembali dikuasai oleh Belanda (1948-1949). Belanda menjadikan benteng ini sebagai markas tentara IV G (Informatie Voor Geheimen), yaitu Dinas Rahasia Belanda. Disamping itu, benteng ini juga digunakan sebagai markas batalyon pasukan dan penyimpanan perbekalan berbagai peralatan tempur. Oleh karena itu, pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan TNI menjadikan benteng ini sebagai salah satu sasaran serangan utama untuk dapat menaklukan pasukan Belanda. Pada 29 Juni 1949, setelah mundurnya pasukan Belanda dari Yoyakarta, maka pengelolaan Benteng Vredeburg dipegang oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).
(Kompleks Bangunan di dalam Benteng Vredeburg)
Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang dari benteng ini, yuk sekarang kita melompat ke era modern saat ini. Melalui proses penataan ulang, kompleks sejarah ini resmi bertransformasi menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional pada tahun 1992. Sekarang, di sana sobat KP gak akan menemukan serdadu yang berpatroli dengan hawa yang mencekam. Sebaliknya, kalian akan disambut oleh kumpulan diorama, artefak autentik (seperti peralatan perang gerilya, mata uang kepingan zaman VOC, hingga barang-barang pribadi milik para tokoh pahlawan), juga ruang terbuka hijau yang nyaman dan tentunya fotogenik abis. Keberadaan Museum Benteng Vredeburg di pusat kota seakan mengingatkan betapa mahalnya harga dari sebuah sejarah panjang kota Yogyakarta. Pokoknya, kalian wajib deh mengunjungi Benteng Vredeburg!
Ingin tahu lebih banyak mengenai hal menarik di Belanda atau tertarik untuk bergabung dengan kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka? Silakan follow instagram kami di @kartapustaka, hubungi kami di 62 813-3899-8527 (Dea), atau klik link berikut ini!
Secara letak geografis, sepertiga dari total wilayah Belanda berada di bawah permukaan laut. Dimana menurut ilmu fisika yang kita pernah pelajari, air akan selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah, kan sobat. Tapi, kenapa negara ini tidak tenggelam, ya? Jawabannya jelas bukan sekedar kebetulan semata, namun ada kejeniusan para ahli dalam menerapkan ilmu rekayasa air selama berabad-abad. Perjalanan panjang antara Belanda dengan air menjadi love hate relationship tersendiri. Yuk kita pelajari lebih dalam kenapa Belanda masih bisa bertahan dan tidak tenggelam!
Belanda punya 3 kunci utama yang bisa membatu mereka menjaganya tetap ”kering” sebagai sistem pertahanan utamanya, berikut penjelasannya:
Polder
(Pembuatan Polder dari storymaps.arcgis.com)
Polder atau poldering merupakan upaya Belanda dalam “merebut” kembali wilayahnya yang terendam air dengan cara reklamasi. Polder ini berbentuk sebidang tanah datar yang dikelilingi oleh tanggul-tanggul tinggi, sehingga air dari luar area tersebut (misalnya air laut atau sungai) tidak dapat membanjiri wilayah polder, sementara air yang berada di dalam polder dapat dikelola dan dipompa keluar secara teratur ke saluran pembuangan yang lebih tinggi. Sebagian besar lahan hasil polder ini kemudian dimanfaatkan untuk lahan pertanian yang kemudian menjadi wilayah pertanian utama di Belanda. Keberhasilan polder bisa kita lihat dari keberhasilan Belanda dalam menambahkan Flevoland sebagai provinsi kedua belasnya.
Tanggul dan Bendungan
(Hollandsche IJsselkering dari watersnoodmuseum.nl)
Jika polder merupakan lahan yang dikeringkan, maka tanggul adalah dinding yang melindunginya. Belanda memiliki jaringan tanggul yang tinggi, kokoh, dan membentang ribuan kilometer di sepanjang pantai, sungai, dan danau. Selain tanggul, Belanda juga memiliki bendungan yang dibangun untuk mengatur aliran air, melindungi daratan dari serangan badai laut yang ekstrem, dan memisahkan wilayah perairan tawar (seperti danau hasil reklamasi) dari air laut yang asin. Salah satu proyek terkenal Belanda dalam membangun tanggul dan bendungan adalah The Delta Works. Delta Works ini merupakan serangkaian bendungan, penghalang gelombang badai bergerak dan tanggul yang dibangun di muara sungai di barat daya Belanda.
Manajemen Air oleh Waterschappen
Keberhasilan Belanda dalam pengelolaan air bukan hanya karena teknologinya, tetapi juga karena struktur pemerintahannya yang unik seperti Waterschappen. Belanda memiliki waterschappen atau organisasi pemerintahan Belanda yang secara khusus bertanggung jawab atas pengelolaan air. Mereka secara bersama-sama memastikan keamanan air, air bersih, dan ketersediaan air yang cukup di Belanda.
Love and hate relationship Belanda dengan air ini menjadi bukti nyata bahwa perencanaan yang matang, investasi berkelanjutan, dan adaptasi teknologi yang terstruktur dan terjaga akan bisa menghadapi tantangan alam yang ada. Belanda mengajarkan bahwa mereka tidak hidup melawan air, melainkan hidup bersama air, dan mengubahnya menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan infrastruktur negara.
Ingin tahu lebih banyak mengenai hal menarik di Belanda atau tertarik untuk bergabung dengan kursus bahasa Belanda di Karta Pustaka? Silakan follow instagram kami di @kartapustaka, hubungi kami di 62 813-3899-8527 (Dea), atau klik link berikut ini!